Home Cerita Anak

Main menu

Resources

Legenda Banyuwangi

 

Dahulu kala, di ujung timur pulau Jawa berdiri sebuah kerajaan besar. Kerajaan itu diperintah oleh seorang raja yang bijaksana. Raja memiliki seorang putera bernama Raden Banterang.

Raden Banterang adalah seorang pemuda yang gagah berani.  Sayangnya, pangeran muda itu sering bertindak gegabah. Ia  sering bertindak tanpa  memikirkan lebih dahulu akibat perbuatannya.

 
Katak Yang Ingin Menjadi Sapi

Seekor anak katak melompat-lompat pulang dari pergi bermain. Ibunya sudah menunggu di depan rumah

“Ke mana saja kamu seharian? Sudah sore begini baru pulang.” tanya ibu katak

“Habis main, bu, bersama teman-teman.” Jawab anak katak.

"Bu,  kami tadi melihat hewan besaaaar sekali, “ anak katak berceloteh. “Kata temanku namanya sapi.”

 

“Sapi? Seperti apa hewan itu?”

“Warnanya  putih, ada hitam-hitamnya  sedikit.”

 
Kisah Kancil dan Buaya

 

Pada suatu hari, kancil  sedang minum di tepi sungai, ketika seekor buaya menggigit kakinya. Beberapa buaya lain juga berenang mendekat. Kancil tahu ia harus segera menemukan akal untuk menyelamatkan diri.

“Halo bapak buaya,” kata kancil sambil menyembunyikan suaranya yang  gemetar. “Kebetulan kita bertemu di sini,  jadi aku tidak perlu memanggil kalian.”

 

Para buaya bingung, mengapa kancil ingin bertemu dengan mereka? Buaya yang menggigit kaki kancil bahkan sudah melepaskan gigitannya. Kancil bisa saja melarikan diri, namun ia tahu buaya dapat bergerak dengan sangat cepat. Ia pasti tertangkap lagi.

 

“Begini, bapak ibu,” lanjut kancil. “Aku diperintah oleh Baginda Raja untuk menghitung jumlah penduduk hutan ini. Berapa jumlah buaya di sungai ini?”

 

Para buaya saling berpandang-pandangan. Mereka tidak tahu berapa jumlah buaya yang ada di sana.

 

Kancil menunggu sejenak.

 

“Kalian tidak tahu?” tanya kancil. Para buaya menggeleng.

 

“Baiklah.” kata kancil. “Panggil semua buaya kemari.”

 

Semua buaya datang. Kancil pun mulai menghitung buaya sambil menunjuk-nunjuk. Ia tampak kesulitan menghitung.

“Lebih baik kalian berjajar dari sini ke seberang sana. Aku akan lebih mudah menghitung kalian.”

 

Para buaya sibuk berjajar. Kancil kemudian menghitung mereka dengan melompat-lompat dari punggung buaya yang satu ke yang lain.

 

“Satu... dua... tiga... sembilan belas... tiga puluh satu... enam puluh... enam puluh satu, dan terakhir, enam puluh dua!” kata kancil sambil melompat ke tepi sungai di seberang.

 

Namun kancil kelihatan bingung. Ia bergumam keras-keras, “Berapa ya tadi? Enam puluh dua atau enam puluh tiga?”

Para buaya mulai beranjak dari barisannya.

 

“Eh,” kata kancil. “Jangan bubar dulu. Lebih baik kuhitung sekali lagi.”

 

Kancil pun kembali melompat-lompat menghitung buaya kembali ke tepi sungai tempat tadi ia minum.

 

“... Lima puluh sembilan... enam puluh... enam puluh satu... enam puluh dua!”

 

“Ternyata benar jumlahnya enam puluh dua. Sekarang aku harus melapor kepada Baginda. Terima kasih ya!”

 

Ia pun lari ke dalam hutan. Karena akalnya yang cerdik, kancil sekali lagi lolos dari bahaya.

 

 
Asal Usul Nama Tahun Cina

http://www.activityvillage.co.uk/

Kamu mungkin pernah mendengar orang berkata, “Tahun depan tahun ular.” Teman orang itu menjawab, “Ya benar, tahun ini tahun naga, berikutnya tahun ular.” Dalam hati kamu bertanya kok ada tahun naga, tahun ular? Memangnya kenapa pakai nama binatang?” Nah, sekarang kamu akan tahu, baca terus ya.

Pada jaman dahulu Kaisar Langit ingin menentukan cara untuk mengukur waktu.

 
Kisah Keledai yang Bodoh (Fabel Aesop)

 

Dahulu kala, seorang saudagar memiliki seekor keledai. Tiap hari keledai itu membawa muatan yang berat.

Barang yang dibawanya bermacam-macam, tergantung pesanan yang harus diantarkan ke langganan saudagar itu.


Pada suatu hari, keledai itu membawa muatan menyeberang sungai. Ketika ia sedang berada di atas jembatan, tiba-tiba ia terpeleset dan jatuh ke dalam sungai. Pelayan sang saudagar segera membantunya keluar dari sungai dan menaikkan muatan lagi.


"Aneh sekali, rupanya air sungai itu berkhasiat", pikir keledai. "Muatanku tadi berat sekali, tapi setelah jatuh ke sungai, sekarang jadi ringan sekali."

Rupanya ia sedang membawa sekarung garam. Ketika terkena air, sebagian garam larut sehingga muatan menjadi ringan.


Esok harinya, ketika membawa barang lagi, keledai itu melewati jembatan yang sama. Ia sengaja menjatuhkan diri ke dalam sungai. Kebetulan ia membawa garam lagi, sehingga ia pun senang karena muatan menjadi ringan.


Beberapa hari kemudian, keledai melewati tempat itu lagi. Ia melompat ke dalam sungai. Namun apa yang terjadi? Setelah keluar dari sungai, muatannya bukan menjadi ringan namun beratnya sekarang berlipat ganda. Keledai itu tidak tahu, bukan garam yang dibawanya, namun kapas. Ketika kapas terkena air, air meresap ke dalam kapas, sehingga tentu saja menjadi berat sekali.


Gambar: http://aaradhnak.files.wordpress.com/2010/04/donkey2.gif

 
Page 1 of 9

Buku Menarik

Banner

Kuisioner

Masalah yang Anda Hadapi?

Advance Newsflash

Facebook Share

Share on facebook
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday1430
mod_vvisit_counterYesterday1675
mod_vvisit_counterThis week9891
mod_vvisit_counterLast week7762
mod_vvisit_counterThis month28270
mod_vvisit_counterLast month24094
mod_vvisit_counterAll days270528